Bobby Rasyidin dan Jalan Panjang Reaktivasi Rel Kereta Api Sumbar

Screenshot

Oleh: Reviandi SPt MM

Ada sesuatu yang menarik dari penampilan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, saat pencanangan reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat (Sumbar) di Stasiun Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (27/10/2026). Tanpa membaca teks pidato, Bobby berbicara runtut, tenang, dan penuh penguasaan materi. Bukan sekadar menyampaikan sambutan seremonial, ia justru memaparkan data, sejarah, persoalan teknis, potensi ekonomi, hingga tahapan pekerjaan yang harus dilakukan untuk menghidupkan kembali jalur kereta api di Ranah Minang.

Bobby tidak sedang berbicara tentang nostalgia kejayaan kereta api Sumbar. Ia berbicara tentang pekerjaan besar yang harus dihitung, dikaji, disiapkan, dan yang paling penting, dieksekusi.

Di hadapan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Donny Oskaria, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis serta sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, Bobby membuka pemaparannya dengan menggambarkan ketimpangan layanan perkeretaapian nasional.

Di Pulau Jawa, jaringan rel kereta api aktif mencapai sekitar 7.000 kilometer. Sementara di luar Jawa, jumlahnya masih kurang dari 1.000 kilometer. Padahal, menurut Bobby, populasi Indonesia relatif terbagi antara Jawa dan luar Jawa. Sumatera sendiri memiliki sekitar 50 juta penduduk, tetapi jaringan kereta api aktifnya baru sekitar 900 kilometer.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat persoalan pemerataan pembangunan dan akses transportasi publik yang belum sepenuhnya dinikmati masyarakat di luar Jawa.

Bobby kemudian membawa pembicaraan itu lebih dekat ke Sumbar. Provinsi ini pernah memiliki jaringan kereta api sepanjang 284 kilometer. Kini, yang masih aktif hanya sekitar 84 kilometer. Artinya, sekitar 200 kilometer jaringan perkeretaapian yang dahulu menjadi bagian penting sejarah dan aktivitas ekonomi Sumbar tidak lagi beroperasi.

Di sinilah urgensi reaktivasi menjadi semakin jelas. Salah satu hal yang menarik dari pemaparan Bobby adalah caranya menjelaskan persoalan secara terukur. Ia tidak langsung berbicara tentang pembangunan besar-besaran, tetapi menjelaskan tahapan yang harus dilalui.

Tahap pertama diarahkan pada reaktivasi jalur Kayu Tanam menuju Padang Panjang sepanjang 15,3 kilometer. Bobby menyebut KAI akan melakukan kajian detail, mulai dari aspek geometris dan kondisi jalur rel, kondisi geografis, ruang bebas jalur kereta, aspek sejarah, hingga skema pembiayaan dan keberlanjutan layanan.

Bahkan, persoalan teknis yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat ikut dijelaskan secara rinci. Jalur dari Kayu Tanam menuju Padang Panjang memiliki kemiringan atau gradien hingga 70 permil. Kondisi ini tidak memungkinkan penggunaan teknologi rel biasa seperti yang digunakan di sejumlah jalur lain. Karena itu, diperlukan teknologi rel bergerigi atau rack railway, seperti yang dahulu digunakan pada jalur pegunungan peninggalan Belanda.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa reaktivasi bukan sekadar memasang kembali rel yang sudah lama tidak digunakan. Ada perhitungan teknis yang harus benar-benar matang agar jalur tersebut aman dan dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Baca Juga  Gelar Pahlawan untuk Soeharto, Langkah Islah Nasional Presiden Prabowo

Bobby juga mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 6.800 bangunan di sepanjang ruang bebas jalur kereta api yang perlu menjadi perhatian. Ia secara terbuka meminta dukungan Forkopimda untuk membantu sosialisasi kepada masyarakat. Karena pembangunan di Sumbar kerap terkendala masalah pembebasan lahan. Meski ini lahan PT KAI sendiri.

Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar. Sebab, pembangunan infrastruktur tidak hanya membutuhkan anggaran dan teknologi, tetapi juga penyelesaian persoalan sosial, penataan kawasan, serta komunikasi dengan masyarakat.

Selain itu, terdapat delapan jembatan yang harus ditingkatkan kemampuan daya dukungnya. Bobby menjelaskan, jembatan peninggalan Belanda dahulu dirancang dengan kemampuan beban sekitar 9 ton, sedangkan standar yang digunakan KAI di Jawa sudah mencapai 18 ton.

Detail seperti ini menunjukkan bahwa KAI tidak ingin mengabaikan aspek keselamatan dan kelayakan infrastruktur dalam menghidupkan kembali jalur lama.

Membaca Potensi Ekonomi Sumbar

Hal lain yang patut dicermati adalah bagaimana Bobby menghubungkan reaktivasi jalur kereta api dengan potensi ekonomi Sumbar.

Ia menyebut jumlah pelanggan kereta api di Sumbar pada 2025 mencapai sekitar dua juta penumpang, meningkat 8,9 persen dibandingkan 2024. Bahkan, pada semester pertama 2026, pertumbuhan penumpang mencapai 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan layanan kereta api di Sumbar memiliki prospek untuk diperhitungkan. Namun, Bobby tidak hanya melihat potensi angkutan penumpang. Ia juga menyinggung rencana pembukaan kembali aktivitas tambang Ombilin oleh PT Bukit Asam (PTBA).

Dalam pemaparannya, Bobby menyebut kapasitas ultimate angkutan batu bara dapat mencapai sekitar lima juta ton. Produksi direncanakan dimulai sekitar 200 ribu ton, kemudian meningkat menjadi dua juta ton pada tahun berikutnya. PTBA juga masih memiliki cadangan sekitar 120 juta ton.

Potensi tersebut tentu membutuhkan dukungan infrastruktur logistik yang memadai. Kereta api bisa menjadi salah satu moda penting untuk mengangkut barang dalam jumlah besar secara lebih efisien. Artinya, reaktivasi rel Sumbar bukan hanya tentang mengembalikan transportasi penumpang, tetapi juga membuka peluang konektivitas ekonomi, industri, dan distribusi logistik.

Bobby juga menekankan aspek keberlanjutan layanan. Baginya, kereta api merupakan salah satu moda transportasi paling aman di dunia. Karena itu, seluruh rencana harus melalui kajian yang memastikan layanan dapat berjalan dalam jangka panjang.

Pencanangan di Kayu Tanam juga memperlihatkan pertemuan tiga figur Minang yang memiliki peran berbeda dalam agenda reaktivasi perkeretaapian Sumbar.

Ada Bobby Rasyidin sebagai Direktur Utama KAI yang bertanggung jawab pada aspek teknis, operasional, perencanaan, dan pelaksanaan reaktivasi. Ada Donny Oskaria sebagai Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara yang berada dalam lingkaran koordinasi strategis BUMN. Kemudian ada Andre Rosiade, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, yang ikut memperjuangkan dan mengawal agenda pembangunan infrastruktur Sumbar.

Baca Juga  Insfrastruktur dan Elektabilitas

Ketiganya memiliki posisi dan kewenangan berbeda. Namun, dalam agenda reaktivasi ini, pertemuan kepentingan tersebut menjadi modal penting untuk mendorong rencana agar tidak berhenti pada pencanangan.

Andre berada pada posisi memperjuangkan aspirasi daerah dan mengawal dukungan kebijakan. Donny memiliki peran strategis dalam koordinasi BUMN dan Danantara. Sementara Bobby harus memastikan seluruh rencana tersebut dapat diterjemahkan menjadi pekerjaan yang terukur melalui KAI.

Menariknya, Bobby secara terbuka mengakui kegigihan Andre dalam memperjuangkan reaktivasi rel Sumbar. Dalam kesempatan itu, ia menyebut Andre sebagai sosok yang sangat getol mendorong agar jalur kereta api di Ranah Minang kembali diaktifkan.

Namun, perjuangan tersebut harus disambut dengan kesiapan teknis dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Sebab, pada akhirnya masyarakat tidak hanya membutuhkan komitmen, tetapi juga hasil pembangunan yang bisa dirasakan.

Ujian Sesungguhnya

Bobby menyampaikan bahwa konstruksi tahap pertama sepanjang 15,3 kilometer Kayu Tanam–Padang Panjang direncanakan mulai pada 2027, setelah kajian dan BED (Basic Engineering Design) diselesaikan.

Pernyataan ini menjadi bagian paling penting dari seluruh pemaparannya. Sebab, di sinilah rencana mulai diarahkan menuju tahapan pekerjaan yang konkret.

Tentu masih ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan. Persoalan 6.800 bangunan, kebutuhan peningkatan delapan jembatan, teknologi rel bergerigi, kondisi geografis, serta skema pembiayaan membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Bobby tampaknya memahami bahwa keberhasilan proyek ini tidak bisa hanya bertumpu pada satu institusi. KAI membutuhkan dukungan pemerintah pusat, BP BUMN, Danantara, pemerintah daerah, Forkopimda, dan masyarakat.

Karena itu, permintaan Bobby agar Forkopimda membantu sosialisasi bukanlah bagian kecil dari pidatonya. Justru di sana terlihat bahwa ia memahami salah satu kunci keberhasilan proyek: persoalan di lapangan harus diselesaikan sejak tahap perencanaan.

Kita tentu berharap target konstruksi 2027 dapat direalisasikan sesuai rencana. Lebih jauh, tahap pertama ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi pengembangan jaringan berikutnya menuju Solok dan Sawahlunto, sebagaimana rencana reaktivasi yang telah disampaikan.

Sumbar memiliki sejarah panjang perkeretaapian. Jalur-jalur lama bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga memiliki potensi untuk kembali menjadi bagian dari sistem transportasi dan penggerak ekonomi daerah.

Pidato Bobby di Kayu Tanam memberikan gambaran bahwa KAI telah membaca persoalan itu dengan berbagai pertimbangan. Ia tidak hanya menguasai data, tetapi juga menjelaskan konsekuensi teknis, tantangan sosial, potensi ekonomi, dan tahapan pekerjaan. Kini, yang ditunggu masyarakat adalah pembuktian melalui eksekusi.

Sebab, keberhasilan reaktivasi tidak akan diukur dari seberapa banyak data yang disampaikan dalam sebuah pidato, melainkan dari seberapa jauh rencana itu benar-benar berubah menjadi rel yang kembali berfungsi, kereta yang kembali melintas, dan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat Sumbar.

Dan di situlah pekerjaan Bobby Rasyidin bersama seluruh pemangku kepentingan benar-benar diuji. (Wartawan Utama)