Putaran Kedua, Semen Padang FC dan Cinta yang Diuji Klasemen

Reviandi - pencinta Semen Padang FC

Oleh: Reviandi

Mencintai Semen Padang FC tidak pernah sesederhana datang ke stadion dan bersorak ketika menang. Ia adalah kesetiaan yang kerap diuji oleh kegelisahan, oleh malam-malam panjang menatap klasemen, dan oleh ketakutan lama bernama degradasi. Musim ini, cinta itu kembali diminta untuk bersabar. Putaran kedua BRI Super League 2025/2026 bukan sekadar lanjutan pertandingan, melainkan cermin kejujuran: seberapa kuat Semen Padang FC bertahan, dan seberapa setia pendukungnya tetap tinggal, apa pun hasil akhirnya.

Rencana manajemen memaksimalkan kuota 9 hingga 10 pemain asing pada putaran kedua terdengar seperti urusan teknis belaka. Namun di balik angka-angka itu, ada kegelisahan yang nyata. Regulasi memang hanya mengizinkan tujuh pemain asing tampil di lapangan. Lebih dari itu, sekilas tampak mubazir. Tetapi liga ini panjang, keras, dan kerap tak adil. Cedera, kartu, dan kelelahan bisa datang tanpa aba-aba. Dalam situasi seperti ini, memiliki kedalaman skuad bukan kemewahan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup.

Yang sering luput disadari, putaran pertama bahkan belum benar-benar selesai. Laga melawan Persija Jakarta pada 22 Desember 2025 baru pertandingan ke-14. Masih ada tiga laga tersisa sebelum kompetisi memasuki putaran kedua. Dengan format 18 klub dan 17 pertandingan setiap putaran, setiap laga sebelum jeda adalah napas penentu. Terlalu cepat membuang pemain bisa berakibat fatal—karena empat pertandingan ke depan bisa dijalani dengan skuad pincang.

BACA JUGA  Minangkabau Berat untuk Banteng

Keputusan melepas Bruno Gomez dan Filipe Chaby terasa getir. Dua nama ini pernah menjadi pengikat harapan, simbol perlawanan musim lalu ketika Semen Padang FC hampir terjun bebas. Namun sepak bola tidak pernah pandai menyimpan kenangan. Pelatih Dejan Antonic tampaknya memilih jalan sunyi: menanggalkan romantisme, menimbang ulang kontribusi. Kurang pergerakan, kurang daya dobrak, dan tidak lagi sesuai kebutuhan taktik. Dalam situasi genting, bahkan kenangan pun bisa berubah menjadi beban.

Di tengah kegamangan itu, datang wajah-wajah baru yang membawa harapan segar. Ravy Tsuoka hadir dengan disiplin dan ketenangan di sisi kanan pertahanan. Kianz Froese menawarkan imajinasi di lini serang yang selama ini terasa kering. Lalu Boubakary Diarra, gelandang bertahan berpengalaman yang sudah kenyang dengan kerasnya Liga Indonesia.  Ia bukan pemain yang gemar disorot kamera, tetapi justru tipe pekerja sunyi—yang menutup celah, memutus serangan, dan menjaga keseimbangan saat tim nyaris goyah.

Pernyataan penasihat tim Semen Padang FC Andre Rosiade bahwa Semen Padang FC akan menggunakan maksimal 10 pemain asing pada putaran kedua bukan sekadar jawaban di media sosial. Itu adalah pengakuan jujur bahwa klub ini sedang berjuang menyelamatkan diri. Target mendatangkan striker, dua gelandang, bek tengah, dan bek kanan menunjukkan bahwa persoalan tim tidak disembunyikan. Lubang-lubang itu diakui, lalu perlahan ditambal.

BACA JUGA  Paling Top, Andre Rosiade Pimpin Asprov PSSI Sumbar

Namun sepak bola tak pernah sepenuhnya tunduk pada rencana. Ia hidup dari keberanian, dari kerja keras, dan dari kesediaan menderita bersama. Pemain asing sehebat apa pun tak akan berarti jika tak memahami satu hal sederhana: mengenakan jersey Semen Padang FC bukan sekadar soal kontrak, tetapi soal membawa beban sejarah dan harga diri.

Putaran kedua nanti akan diisi dengan ketegangan yang lebih pekat. Stadion Haji Agus Salim akan kembali menjadi ruang antara sorak dan sunyi. Setiap gol lawan terasa seperti luka lama yang terbuka. Setiap gol Semen Padang FC disambut dengan napas tertahan dan doa yang tak selesai diucapkan. Tak ada tuntutan berlebihan. Tak ada mimpi muluk. Cukup satu: bertahan.

Sebab jika Semen Padang FC kembali terlempar ke Liga 2 atau Championship, yang jatuh bukan hanya sebuah klub. Yang runtuh adalah cerita panjang, ingatan kolektif, dan kebanggaan orang Minangkabau—di ranah maupun di rantau. Jutaan pendukung akan kembali diuji kesetiaannya.

Dan mungkin, di situlah makna cinta diuji oleh klasemen. Tetap tinggal saat sulit. Tetap percaya meski takut. Bertahan, meski rasanya melelahkan. Karena bagi Semen Padang FC, dan bagi kami yang mencintainya, bertahan bukan sekadar target—ia adalah bentuk cinta yang paling jujur. (Pencinta Semen Padang FC)