Oleh: Reviandi
Bursa transfer sedang berisik. Nama-nama baru diumumkan, harapan diperdagangkan, optimisme diproduksi massal. Tapi di tengah riuh itu, ada satu sore yang menuntut keheningan keberanian. Minggu (11/1/2026) pukul 15.30 WIB di Stadion Haji Agus Salim, Semen Padang FC tidak sedang diuji oleh rumor, melainkan oleh nyali sendiri saat menjamu Persis Solo pada laga terakhir putaran pertama.
Ini bukan pertandingan biasa. Ini adalah pertemuan dua tim papan bawah yang sama-sama terluka dan terdesak. Peringkat 16 melawan peringkat 18. Jaraknya hanya tiga poin. Di titik seperti ini, sepakbola tak lagi soal taktik indah atau statistik manis. Ia berubah menjadi soal mental: siapa yang berani berdiri ketika tekanan datang berlapis. 90 menit yang akan menentukan.
Jika menang, Kabau SIrah bisa mendapatkan nilai 13, menyamai PSBS Biak yang baru akan bertanding 12 Januari 2026 melawan FC Bhayangkara. Dengan selisih gol yang jauh lebih baik, -15 sementara PSBS Biak -21, dipastikan Semen Padang akan ke posisi 15, atau aman dari degradasi. Seri apalagi kalah, apa boleh buat — mangkrak di zona degradasi. Huft
Semen Padang FC datang ke laga ini dengan beban musim yang belum ramah. Rekor tandang terburuk di liga menjadi catatan pahit yang tak bisa disangkal. Delapan kali pergi, tujuh kali tumbang. Di kandang juga tidak ada baik-baiknya— banyak kalahnya. Angka-angka itu jujur, meski menyakitkan. Dan karena itulah, laga kandang terakhir putaran pertama menjadi ruang pengakuan: apakah Kabau Sirah masih punya daya juang, atau sekadar menunggu nasib.
Di luar lapangan, bursa transfer paruh musim mulai dibuka. Semen Padang FC menjadi klub paling aktif, mengumumkan banyak pemain asing baru. Nama-nama itu menyalakan harapan, memancing euforia, dan membuat sebagian publik seakan lupa bahwa putaran pertama belum benar-benar selesai. Seolah masalah bisa ditunda, seolah luka bisa ditambal nanti.
Padahal sepakbola tidak mengenal penundaan tanggung jawab. Tidak ada pemain baru yang bisa menyelamatkan pertandingan yang belum dimenangkan. Tidak ada bursa transfer yang sanggup menutup rasa malu jika laga ini berakhir dengan kegagalan.
Persis Solo datang ke Padang dengan niat yang tak kalah keras. Sebagai juru kunci klasemen, mereka justru berada di posisi paling berbahaya. Pelatih mereka berbicara tentang momentum, kebangkitan, dan keberanian untuk melawan keadaan. Mereka mempelajari permainan Semen Padang FC, menyiapkan fisik dan taktik, dan menjadikan laga ini sebagai pintu keluar dari keterpurukan.
Semen Padang FC tak bisa berlindung di balik alasan apa pun. Tidak bisa bersembunyi di balik proses, adaptasi, atau janji putaran kedua. Laga ini menuntut kejujuran total. Bertarung, atau mengakui kekalahan sebelum peluit dibunyikan.
Stadion Haji Agus Salim bukan sekadar tempat bertanding. Ia adalah ruang ingatan kolektif, tempat harga diri Kabau Sirah pernah ditegakkan dan dipertaruhkan. Jika kandang ini pun tak lagi menghadirkan rasa gentar bagi lawan, maka yang hilang bukan hanya poin, tetapi marwah.
Sebagai pendukung, saya tidak menuntut keindahan permainan. Saya tidak menagih janji tentang kejayaan di putaran kedua. Yang saya minta hanya satu hal yang paling mendasar dalam sepakbola: nyali. Menangkan duel, menangkan bola kedua, menangkan mental.
Dan di sinilah garis tegas itu harus ditarik. Jangan degradasi; saya memohon.
Jika pada sore ini Semen Padang FC kembali bermain tanpa keberanian, tanpa rasa memiliki, tanpa kesadaran bahwa lambang di dada lebih berat dari nama di punggung, maka tidak ada lagi alasan untuk meminta kesabaran publik. Dukungan bukan cek kosong. Cinta pendukung Padang bukan tanpa batas.
Bursa boleh berisik. Nama-nama baru boleh diumumkan. Tapi di atas rumput Agus Salim, hanya ada satu ujian yang sah, apakah para pemain layak mengenakan kostum Kabau Sirah, atau tidak. Sore itu, jawabannya harus diberikan. (Pencinta Semen Padang FC)






